Thursday, March 23, 2017



Semesta Hijauku

Bukan musim hujan
Namun kuhirup aroma kesegaran
Merasuki segala celah sekujur tubuhku
Menjadi satu dalam semesta hijauku

Ku buka lebar kedua mata
Dalam nyata tak ada asa
Menemui semesta layaknya surga
Dengan banyak malaikat pancarkan cahaya

Dialog burung-burung gereja,
Menyatukan rangkaian nada yang sempurna
Menyapa pagi pada sang mentari
Menyambut sepi dalam hati ini

Kutemui juga bidadari dalam semesta itu
Melangkah melewati tubuhku
Meninggalkan aroma wangi begitu nyata
Dan menanamkan rindu pada dasar qalbu ku



by: bayuristi


Tuesday, March 14, 2017




Ekses Dari Cinta

Terik matahari disiang hari mengantarkan dua pemuda pada diskusi mengenai esensi dari sebuah cinta. Cinta yang dimaksudkan bukan hanya tentang romantika dua pemuda-pemudi yang saling mengagumi, tapi luasnya ekses dari cinta itu sendiri seperti apa.

"Jika manusia memilih untuk lahir kedunia, maka ia harus rela merasakan dua ekses dari sebuah cinta." Ucap Channin.
"Diriku masih bias dengan apa yang engkau maksudkan tentang ekses dari cinta itu sendiri." Sahut Awan.
"Cinta ialah karunia dari Tuhan yang ditanamkan disetiap manusia ketika mereka lahir kedunia. Dengan cinta dua sepasang manusia pula kita lahir untuk menjalani sebuah misi tersendiri dari sang Semesta. Dan mekanisme seperti itu akan selalu berotasi untuk menjadi keseimbangan dan terus berkesinambungan."
"Terus, apa dua sisi dari ekses cinta itu sendiri?"
"Bahagia dan sakit. Bahagia ketika seseorang mampu menapaki keindahan dengan rasa, dan sakit ketika mereka menapaki kejatuhan atas rasa. Pada dasarnya cinta ialah sebuah kemurnian rasa yang menjadi media dalam diri untuk Tuhan menyampaikan pesan-pesan atau kehendak Nya kepada setiap pribadi. Namun terkadang lingkungan yang membuat pemikiran manusia menjadi terkooptasi dan merusak pesan itu sendiri, dan akhirnya membuat setiap pribadi tak mampu menangkap pesan dari kebenaran Sang Kausalitas itu."
"Lalu, kaitannya dengan realitas sekarang, terutamanya pada pemuda-pemuda seusia kita, bagaimana tanggapanmu?"
"Aku menilai pemuda saat ini salah arti dalam menerjemahkan esensi dari cinta itu sendiri. Mereka selalu mengaitkan cinta hanya sebatas menyukai seseorang, laki-laki menyukai perempuan, begitupun sebaliknya. Kemudian setelah itu, mereka menuntut akan adanya hubungan, melekati sebagai kepemilikan, dan ekses dari hubungan itu ialah eksistensi yang ingin ditunjukkan pada orang-orang sekitar. Tetapi ketika mereka mengalami kejatuhan akan cinta, mereka akan merasakan kesakitan yang sedalam-dalamnya. Karena sejak awal, mereka menutupi kemurnian rasa dengan hasrat itu sendiri. Hasrat ingin memiliki, hasrat ingin selalu bersama, dan hasrat dalam mengeksploitasi untuk bentuk eksistensinya. Disisi lain, mereka melupakan luasnya esensi dari cinta. Salah satunya ialah kemanusiaan, bentuk rasa kemanusiaan ialah cinta yang begitu besar. Dengan kemanusiaan, kita mengalirkan rasa kepada sesama dengan setulus-tulusnya. Tanpa melekati diri, tanpa ikatan hubungan, tanpa eksistensi ataupun egoisme diri. Dan rasa kemanusiaan mampu mengalirkan rasa cinta kita terhadap banyak manusia. Jika satu manusia menyakiti ataupun menjatuhkanmu, engkau takkan sakit sedalam-dalamnya, karena masih ada manusia lain yang mencintaimu akibat rasa tulus yang engkau alirkan kepada mereka. Karena rasa cinta tak bisa dicegah, rasa cinta ibarat aliran air yang tak bisa dibendung, ia selalu mengalirkan air dari hulu hingga hilir. Ia tak bisa dibendung, tapi bisa dipecah alirannya, dibelokkan pada tujuan yang berbeda. Begitupun dengan rasa cinta, jika kamu hanya mengalirkan rasa itu kepada satu manusia, ketika jatuh engkau akan sakit sedalam-dalamnya, tapi ketika engkau mengalirkan rasa kepada banyak manusia, engkau masih berbijaksana karena masih ada manusia lain yang menyembuhkanmu dari kesakitan itu."
"Pemahaman yang begitu mendalam tentang cinta, itu yang selalu aku kagumi setiap kali kau mengulik sisi lain dari sebuah persepsi."
"Hehe aku rasa engkau memikirkan hal yang sama, engkau hanya berpura-pura bertanya padaku untuk mengulik topik pembicaraan kita. Karena engkau pernah mengatakan hal yang sangat membekas dibenakku. Selalu menjadi pembeda, itulah pemuda. Dan disitu aku mengerti bahwa terdapat makna yang begitu dalam dari kata-katamu itu."
"Haha bisa saja kau."
..........



by: bayuristi



Sunday, March 12, 2017



Merintih

Langit merintih
Di tengah pasang manusia bercumbu tanpa rasa malu
Tengoklah, langit nampak suram
Melihat ulah gila manusia
Merampas hak hidup mereka

Tengoklah seberang,
Hutan gundul, habis dengan tragis
Tak nampak sehelai daun hijau yang memukau
Primata, dimana singgasanamu?
Apa kau hidup secara utuh?

Bicara jika mampu
Serbu mereka,
Minta pertanggung jawabannya



by: bayuristi

Saturday, March 11, 2017



Rindu Masa Kecilku

Aku rindu mainan yang dulu
Aku rindu sahabat kecilku
Aku rindu pohon-pohon tumbuh besar dan rindang

Semesta kini berubah
Mereka mngeksploitasi tanpa henti
Bahkan pikiranpun diubahnya juga
Dari jujur menjadi dusta
Demi eksistensi dan perut pribadi

Ingin kuceritakan semua itu pada sahabatku
Namun diriku ragu
Ia tak lagi seperti dulu
Yang sudah jujur sejak dari pikirannya



by: bayuristi

Semesta Hijauku Bukan musim hujan Namun kuhirup aroma kesegaran Merasuki segala celah sekujur tubuhku Menjadi satu dalam semesta...